<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rahmat Tuhan Tidak Terbatas</title>
	<atom:link href="http://tuban.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tuban.wordpress.com</link>
	<description>Banyak Jalan Menuju Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 15:54:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tuban.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rahmat Tuhan Tidak Terbatas</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tuban.wordpress.com/osd.xml" title="Rahmat Tuhan Tidak Terbatas" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tuban.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mengundang Tuhan</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/25/mengundang-tuhan/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/25/mengundang-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jan 2007 07:38:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/25/mengundang-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, “Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami.” Dengan marah Musa menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?” Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, “Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=48&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, “Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami.”</p>
<p>Dengan marah Musa menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?” Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, “Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang.” <span id="more-48"></span></p>
<p>Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. “Saya lapar sekali,” katanya kepada Musa. “Berilah aku makanan.” Musa berkata, “Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan.” Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka.</p>
<p>Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, “Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan.” Tuhan menjawab, “Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan.”</p>
<p>“Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa,” kata Musa.</p>
<p>“Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku.”</p>
<p>Berbakti kepada sesama manusia bukanlah kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim apa pun jenis kelamin, usia, dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan semua orang dengan baik.</p>
<p><strong>Sumber: Jalaluddin Rakhmat, Menolong dalam Islam.</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=48&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/25/mengundang-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Pemungut Daun*</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/cinta-pemungut-daun/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/cinta-pemungut-daun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 10:38:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/cinta-pemungut-daun/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Rindu Rasul, Jalaluddin Rakhmat. Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=47&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: Rindu Rasul, Jalaluddin Rakhmat.</strong></p>
<p>Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh.</p>
<p>Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia lalu mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. <span id="more-47"></span></p>
<p>Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang ada sebelum perempuan tua itu datang.</p>
<p>Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.</p>
<p>“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”</p>
<p>Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.</p>
<p>“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya ini tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”</p>
<p>Kisah yang diceriterakan oleh seorang Kiai Madura, D. Zawawi Imran, ini bisa membuat bulu kuduk kita merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?</p>
<p>”Allahumma Shollii Alaa Sayyidina Muhammad wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad” <strong>[]</strong></p>
<p>* Judul diubah.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=47&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/cinta-pemungut-daun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuhan yang Disaksikan, Bukan Tuhan yang Didefinisikan</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/tuhan-yang-disaksikan-bukan-tuhan-yang-didefinisikan/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/tuhan-yang-disaksikan-bukan-tuhan-yang-didefinisikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 08:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/tuhan-yang-disaksikan-bukan-tuhan-yang-didefinisikan/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Jurnal Pemikiran Islam Paramadina. ALKISAH, seorang Arab Badawi bermaksud menjual sekarung gandum ke pasar. Berulangkali ia mencoba meletakkan karung itu di atas punggung unta; dan berulangkali ia gagal. Ketika ia hampir putus asa, terkilas pada pikirannya pemecahan yang sederhana. Ia mengambil satu karung lagi dan mengisinya dengan pasir. Ia merasa lega, ketika kedua karung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=46&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: Jurnal Pemikiran Islam Paramadina.</strong></p>
<p>ALKISAH, seorang Arab Badawi bermaksud menjual sekarung gandum ke pasar. Berulangkali ia mencoba meletakkan karung itu di atas punggung unta; dan berulangkali ia gagal. Ketika ia hampir putus asa, terkilas pada pikirannya pemecahan yang sederhana. Ia mengambil satu karung lagi dan mengisinya dengan pasir. Ia merasa lega, ketika kedua karung itu bergantung dengan seimbang pada kendaraannya. Segera ia berangkat ke pasar.</p>
<p>Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang asing yang berpakaian compang-camping dan berkaki telanjang. Ia diajak oleh orang asing itu untuk berhenti sejenak, beristirahat, dan berbincang-bincang. Sebentar saja, orang Badawi itu menyadari bahwa yang mengajaknya berbincang itu orang yang banyak pengetahuan. Ia sangat terkesan karenanya. Tiba-tiba, orang asing itu menyaksikan dua buah karung bergantung pada punggung unta. <span id="more-46"></span></p>
<p>&#8220;Bapak, katakan apa yang bapak angkut itu; kelihatan sangat berat&#8221;, tanya orang asing itu. &#8220;Salah satu karung itu berisi gandum yang akan saya jual ke pasar. Satu lagi karung berisi pasir untuk menyeimbangkan keduanya pada punggung unta,&#8221; jawab orang Badawi. Sambil tertawa, orang pintar itu memberi nasihat, &#8220;Mengapa tidak ambil setengah dari karung yang satu dan memindahkannya ke karung yang lain. Dengan begitu, unta menanggung beban yang ringan dan ia dapat berjalan lebih cepat.&#8221;</p>
<p>Orang Badawi takjub. Ia tidak pernah berpikir secerdik itu. Tetapi sejenak kemudian, ketakjubannya berubah menjadi kebingungan. Ia berkata, &#8220;Anda memang pintar. Tapi dengan segala kepintaran ini mengapa Anda bergelandangan seperti ini, tidak punya pekerjaan dan bahkan tidak punya sepatu. Mestinya kepandaian Anda yang dapat mengubah tembaga menjadi emas akan memberikan kekayaan kepada Anda.&#8221;</p>
<p>Orang asing itu menarik napas panjang, &#8220;Jangankan sepatu, hari ini pun saya tidak punya uang sepeser pun untuk makan malam saya. Setiap hari, saya berjalan dengan kaki telanjang untuk mengemis sekerat atau dua kerat roti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu apa yang Anda peroleh dengan seluruh kepandaian dan kecerdikan Anda itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari semua pelajaran dan pemikiran, aku hanya memperoleh sakit kepala dan khayalan hampa. Percayalah, semuanya itu hanya bencana bagiku, bukan keberuntungan.&#8221;</p>
<p>Orang Badawi itu berdiri, melepaskan tali unta, dan bersiap-siap untuk pergi. Kepada filsuf yang kelaparan di pinggir jalan, ia memberi nasehat, &#8220;Hai, orang yang tersesat. Menjauhlah dariku, karena aku kuatir kemalanganmu akan menular kepadaku. Bawalah semua kepandaianmu itu sejauh-jauhnya dariku. Sekiranya dengan ilmumu itu kamu ambil suatu jalan, aku akan mengambil jalan yang lain. Sekarung gandum dan sekarung pasir boleh jadi berat; tetapi itu lebih baik daripada kecerdikan yang sia-sia. Anda boleh jadi pandai, tetapi kepandaian Anda itu hanya kutukan; saya boleh jadi bodoh, tapi kebodohan saya mendatangkan berkat, karena walaupun saya tidak cerdik, tetapi hati saya dipenuhi rahmat-Nya dan jiwa saya berbakti kepada-Nya.&#8221;</p>
<p>Kisah Jalal al-Din Rumi, yang saya ceritakan kembali dengan bahasa saya itu, merupakan kritik halus kepada para filsuf yang berusaha mengetahui Tuhan dengan akalnya. Moral cerita ini ditutup dengan kuplet-kuplet berikut:</p>
<blockquote><p>Jika kau ingin derita<br />
benar-benar hilang dari hidupmu<br />
Berjuanglah untuk melepaskan<br />
&#8216;kebijakan&#8217; dari kepalamu<br />
Kebijakan yang lahir dari tabiat insani<br />
tak menarik kamu lebih dari khayalan<br />
Karena kebijakan itu tidak diberkati<br />
yang mengalir dari cahaya kemuliaan-Nya<br />
Pengetahuan tentang dunia<br />
hanya memberikan dugaan dan keraguan<br />
Pengetahuan tentang Dia, kebijakan ruhani sejati<br />
membuatmu naik ke atas duniawi<br />
Para ilmuwan masa kini telah menghempaskan<br />
semua pengorbanan diri dan kerendahan hati<br />
Mereka sembunyikan hati<br />
dalam kecerdikan dan permainan bahasa<br />
Raja sejati adalah dia<br />
yang menguasai pikirannya<br />
Bukan dia yang pikirannya<br />
Menguasai dunia dan dirinya</p></blockquote>
<p>Rumi menunjukkan bahwa dengan intelek kita tidak akan memperoleh pengetahuan tentang Tuhan. Intelek mempunyai kemampuan terbatas; dan karena itu, tidak akan mampu mencerap Tuhan yang tidak terbatas. Sekiranya intelek mencoba memahami Tuhan, ia akan memberikan batasan kepada-Nya. Tuhan para pemikir adalah Tuhan yang didefinisikan.</p>
<p>Rumi mewakili para sufi yang ingin mengetahui Tuhan melalui pengabdian, bukan pemikiran; melalui cinta, bukan kata; melalui taqwa bukan hawa. Mereka tidak ingin mendefinisikan Tuhan; mereka ingin menyaksikan Tuhan. Dengan menggunakan intelek, kita hanya akan mencapai pengetahuan yang dipenuhi keraguan dan kontroversi. Melalui mujahadah dan &#8216;amal, kita dapat menyaksikan Tuhan dengan penuh keyakinan.</p>
<p>Dalam Matsnawi, Daftar-e Sevon, Bait 1267, Rumi menyingkatkan pengetahuan hasil pemikiran: Az nazar keh guftesyan syud mukhtalef, an yeki dalesy laqb dad in alef. Karena pemikiran ucapan mereka bertentangan, kata yang satu dal kata yang satu alif. Seperti Kucing Schroedinger dalam fisika, pengamat menciptakan realitas. Tuhan menjadi hasil konstruksi manusia. Tuhan dapat muncul dalam berbagai &#8220;bentuk&#8221; sesuai dengan siapa yang memahami-Nya.</p>
<p>Seperti Rumi, Ibn &#8216;Arabi menunjukkan kekeliruan pengetahuan tentang Tuhan yang dilakukan oleh para filsuf dan ahli ilmu kalam. Pemikiran tidak mungkin mencapai pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan; malahan pemikiran seperti itu hanya menghasilkan tipuan, khayalan, dan pertentangan. Ia menulis:</p>
<p>Pengetahuan ahli ilmu kalam dan filsuf berkenaan dengan esensi Tuhan bukanlah cahaya. Tidak ada satu madzhab pun yang tidak punya para pendukungnya. Mereka sendiri tidak sepakat, tetapi mereka tetap juga digambarkan sebagai kaum Mu&#8217;tazilah atau Asy&#8217;ariyah, seperti itu juga pada filsuf dalam ajaran mereka tentang Tuhan dan apa yang harus dipercayainya. Mereka belum sepakat di antara mereka tetapi setiap kelompok mempunyai status dan nama &#8230; Kita melihat nabi dan rasul yang terdahulu dan yang kemudian sejak Adam sampai Muhammad, termasuk yang datang di antara mereka &#8216;alayhim al-salam; mereka tidak pernah berikhtilaf dalam akar keimanan mereka pada Tuhan &#8230; Jadi, berpegang-teguhlah kepada keimanan dan lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu dan ingat Tuhanmu pada waktu pagi dan sore (QS Al A&#8217;raf: 205) dengan zikir yang ditetapkan syari&#8217;at kepadamu baik dengan mengulangi la ilaha illa Allah (tahlil) atau tasbih dan takutlah kepada Tuhan. Jika al-Haqq berkehendak untuk memberikan kepadamu apa yang Dia mginkan berupa pengetahuan tentang Dia, hadirkan akalmu dan hatimu (lubb) apa yang Dia berikan dan anugerahkan kepadamu berupa pengetahuan tentang Dia. Sesungguhnya inilah pengetahuan yang bermanfaat dan cahaya yang dengan itu hatimu hidup, dan berjalan bersamamu di dunia ini. Dengannya kamu selamat dari kegelapan syubhat dan keraguan yang terjadi pada pengetahuan yang dihasilkan oleh pemikiran (afkar) &#8230; Saya sudah membimbingmu, saudara, bagaimana mencapai jalan pengetahuan yang bermanfaat. Jadi, bila kamu sudah merintis jalan yang lurus, ketahuilah bahwa Tuhan sudah membimbing tanganmu, memeliharamu, dan telah mempersiapkan kamu untuk diri-Nya.</p>
<p>Pada tempat lain, Ibn &#8216;Arabi menulis:</p>
<p>Di antara berbagai kelompok, tidak ada seorang pun yang lebih tinggi dari orang yang memperoleh pengetahuan melalui taqwa. Taqwa terletak pada tingkat pencapaian pengetahuan yang paling tinggi. Ia saja yang memiliki keputusan yang pasti. Otoritasnya berada di atas setiap keputusan yang ada dan di atas setiap orang yang membuat keputusan. Ia adalah qadli yang terbaik. Pengetahuan ini tidak dapat diperoleh pada tingkat permulaan. Karena itu, hanya orang yang berilmu di antara orang yang beriman yang dipilih untuk memperolehnya: yakni, mereka yang tahu bahwa ada Seseorang untuk kembali, dan menyaksikan-Nya dapat diraih. Jika mereka jahil dari pengetahuan ini, aspirasinya (himmah) akan sangat lemah sehingga sekiranya al-Haqq menampakkan diri-Nya (tajalli) kepada mereka, mereka akan menafikan-Nya dan menolak-Nya, karena pandangan mereka dibatasi (muqayyad) oleh sesuatu. Selama faktor pembatas itu tidak ada pada waktu penampakan diri-Nya (tajalli), mereka pasti akan menolak bahwa itu Tuhan, sekalipun Tuhan berbicara kepada mereka secara langsung atau mereka mendengar ucapan bahwa Dia itu Tuhan. Karena tidak memperoleh ilham dan karena pemikiran rasional mereka meyakinkan mereka bahwa tidak mungkin siapa pun dapat melihat al-Haqq &#8211;seperti para filsuf dan kaum Mu&#8217;tazilah&#8211; bahkan sekiranya kita mengetahui-Nya, mereka niscaya menolak-Nya dalam penampakan-Nya kepada mereka. Diperlukan bagi orang beriman agar cahaya imannya membawanya kepada apa yang telah membawa Musa a.s. ketika ia bertanya: Ya Tuhanku, tampakkan diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu (QS Al A&#8217;raf: 143).</p>
<p>Apa yang dikritik Ibn &#8216;Arabi dan para sufi lainnya bukan intelek dalam pengertian akal, tetapi salah satu di antara fakultas (quwwah) dibawah kekuasaan akal. Kekuatan itu disebut daya pikir (quwwah mufakkirah). Tidak mungkin kita mengulas epistemologi Ibn &#8216;Arabi di sini, baik karena keterbatasan waktu maupun karena sudah adanya tulisan orang lain yang lebih lengkap. Tetapi secara singkat bisa kita katakan, bahwa Ibn &#8216;Arabi menyatakan bahwa pengetahuan tentang Tuhan hanya dapat diperoleh bila intelek dihadapkan kepada hati dan mengambil pelajaran dari hati.</p>
<p>Sekali intelek diyakinkan tentang perlunya mengambil pelajaran dari hati, manusia memulai kelahiran baru dalam perjalanan panjangnya. Ia akan beristirahat di tempat tinggalnya, berhenti di daerah-daerah pedesaan, merasakan situasi baru setiap saat, menunggu dengan penuh gairah apa yang bakal datang, tetapi ia tidak akan pernah sampai, karena pengetahuan tidak punya akhir dan tidak ada batasnya.</p>
<p>Pengetahuan yang diperoleh melalui hati adalah pengetahuan yang sejati. Pengetahuan ini tidak didasarkan pada pendefinisian Tuhan, tetapi pada penyaksian Tuhan. Dalam istilah al-Qur&#8217;an, pengetahuan ini disebut pertemuan (liqa&#8217;). Bersama Ibn &#8216;Arabi, al-Ghazali, al-Nasafi, dan tokoh-tokoh sufi lain sepanjang zaman kita diberi petunjuk bagaimana sampai kepada Pertemuan Agung ini.</p>
<p>Sebelum saya mengakhiri makalah ini dengan petunjuk Ibn&#8217;Arabi dalam Risalah al Anwar fi ma Yumnah al-Khalkwah min al-Asrar, saya tergoda untuk mengutip al-Syaykh Ahmad Rifa&#8217;i al-Husayni, tokoh sufi yang hidup pada abad keenam Hijriyah:</p>
<p>Kebanyakan orang mengetahui Tuhan melalui berita tentang Tawhid yang dibawa dari Nabi Muhammad s.a.w. Mereka membenarkannya dengan hati, mengamalkannya dengan tubuh, tetapi mengotori diri mereka dengan dosa dan maksiat. Maka hiduplah mereka di dunia dalam kebodohan dan kekurangan. Mereka berada dalam bahaya besar kecuali yang disayangi oleh Yang Pengasih dari segala yang mengasihi.</p>
<p>Lebih tinggi dari itu, ada sekelompok manusia yang mengenal Tuhan dengan pembuktian. Mereka adalah ahli pikir, nalar, dan akal. Mereka meyakini tawhid berdasarkan dalil, ayat-ayat, dan tanda-tanda ketuhanan. Mereka mengetahui yang gaib atas dasar yang konkret. Mereka meyakini kebenaran dalil. Mereka berada pada jalan yang benar, hanya saja, mereka terhalang tirai dari Allah Ta&#8217;ala dengan perhatian mereka kepada dalil-dalil mereka.</p>
<p>Ahli ma&#8217;rifat khusus mengetahuinya dengan keyakinan yang paling utama. Mereka tenteram dalam pengetahuan mereka. Tidak merisaukan mereka dalil. Tidak memalingkan mereka sebab. Dalil mereka Rasulullah s.a.w. Iman mereka al-Qur&#8217;an. Cahaya mereka menerangi di hadapan mereka.</p>
<p>Barangsiapa yang mengenal Allah Ta&#8217;ala berdasarkan berita maka ia seperti saudara-saudara Yusuf ketika mengetahui rupanya tapi tidak menyadarinya, sehingga mereka dipermalukan di hadapannya, ketika mereka berkata: jika ia mencuri maka sesunggulmya saudaranya telah mencuri pula sebelum itu (QS Yusuf: 77).</p>
<p>Barangsiapa yang mengenal Tuhan dengan dalil maka ia seperti Ya&#8217;qub a.s. ketika tahu bahwa Yusuf masih hidup, sehingga bertambah-tambah tangisan dan penderitaannya, sehingga ditanggungnya berbagai bala sampai putih matanya karena kesedihan, karena tahu bahwa Yusuf masih hidup dan karena rindu untuk berjumpa dengannya. Ia berkata: Pergilah selidiki keadaan Yusuf, aku sudah mencium bau Yusuf. Karena ucapannya itu, orang-orang yang tidak tahu berkata; Demi Allah sesungguhnya engkau dalam kesesatanmu yang terdahulu (QS Yusuf: 59). Mereka berkata: Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-arang yang celaka (QS Yusuf: 85).</p>
<p>Perumpamaan orang yang mengenal Tuhan melalui Tuhan adalah seperti Bunyamin yang diambil Yusuf untuk dirinya. Yusuf berkata: &#8220;Saudaraku, apakah kamu ingin menyaksikanku atau kembali kepada bapakmu?&#8221; Ia berkata: &#8220;Aku ingin menyaksikanmu&#8221;. Yusuf berkata: &#8220;Jika kamu menginginkan aku, bersabarlah atas ujianku&#8221;. Ia berkata: &#8220;Aku siap, karena engkau akan kupikul segala bencana asalkan aku tinggal bersamamu dan tidak berpisah denganmu&#8221;. Kemudian Yusuf mengeluarkan gandum dari kantong Bunyamin dan menuduh saudaranya mencuri. Seluruh penduduk kola mengecam dan mengejek Bunyamin. Saudara-saudaranya mempersalahkannya. Tetapi ia sendiri bergembira, tertawa dalam kesendiriannya. Ia tidak takut pada ejekan orang-orang yang mengejek. Inilah perumpamaan ahli yaqin dalam pengetahuan mereka tentang Tuhan. <strong>[]</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=46&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/tuhan-yang-disaksikan-bukan-tuhan-yang-didefinisikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tangan yang Dicium Rasulullah</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/tangan-yang-dicium-rasulullah/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/tangan-yang-dicium-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 07:39:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/tangan-yang-dicium-rasulullah/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Majalah Syi’ar Edisi Rabi’al-Tsani 1424. Di tepi laut, tempat para nelayan mencari nafkah, Kampung Kali Baru VI, Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara, para ibu, bapak, remaja dan anak-anak yang akan dikhitan, kurang lebih lima puluh orang, berdatangan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di situlah tempat kegiatan pengajian Majelis Ta’lim Pondok Indah yang diketuai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=45&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: Majalah Syi’ar Edisi Rabi’al-Tsani 1424.</strong></p>
<p>Di tepi laut, tempat para nelayan mencari nafkah, Kampung Kali Baru VI, Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara, para ibu, bapak, remaja dan anak-anak yang akan dikhitan, kurang lebih lima puluh orang, berdatangan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di situlah tempat kegiatan pengajian Majelis Ta’lim Pondok Indah yang diketuai Budiyono, yang menjadi program syi’ar ajaran Ahlulbait Nabi SAW. Mereka disambut warga setempat dengan ramah, dan dalam melaksanakan kegiatan ini dibantu para remaja karangtaruna.</p>
<p>Dalam hikmah maulid Nabi SAW yang disampaikan Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat, beliau bercerita tentang kisah Rasulullah SAW yang baru pulang dari peperangan. Ketika tiba di Madinah, beliau disambut banyak orang. Begitu beliau datang, ada seorang penjual air yang mendekati Nabi SAW hendak mencium tangan beliau. Akan tetapi, Nabi SAW tidak mau menerimanya, sebaliknya beliau mengambil tangan penjual air itu untuk dicium. <span id="more-45"></span></p>
<p>Ketika bersentuhan tangan dengan orang itu, Nabi SAW merasakan tangannya kasar sekali. Lalu, Nabi SAW bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?” Orang itu menjawab, “Yaa Rasulullah, kerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah kepada keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”</p>
<p>Apa yang dilakukan Nabi yang agung itu? Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia, jauh lebih mulia daripada siapapun, tetapi orang yang paling mulia itu begitu melihat tangan yang kasar karena mencari nafkah yang halal, menggenggam tangan itu, dan menciumnya. Saat Rasulullah SAW hendak mencium tangan itu, beliau berkata, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada” ‘inilah tangan yang tak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.</p>
<p>Menurut Kang Jalal, tangan yang tidak pernah disentuh oleh api neraka itu bukan tangan yang lembut, yang berkali-kali membuka ayat-ayat al-Qur’an, bukan tangan yang sekali tanda tangan, ratusan juta rupiah cair, tetapi adalah tangan yang melepuh karena bekerja keras mencari nafkah yang halal. “Kulit yang dicintai oleh Nabi SAW, yaitu kulit yang menghitam karena dibakar terik matahari, bukan kulitnya ibu-ibu yang memutih karena tidak pernah kena sengatan matahari. Tangan yang dicintai dan dicium oleh Rasulullah SAW adalah tangan yang menjadi keras (kapalan), kulit melepuh karena mencari nafkah,” demikian ujar pemimpin Yayasan Muthahhari ini.</p>
<p>Hal yang sama terjadi terhadap puteri Rasulullah SAW, yang sangat disayangi lebih daripada segala-galanya, Fathimah Azzahra. Ketika Rasulullah tengah duduk bersama orang banyak, Fathimah datang, lalu Nabi SAW berdiri menyambut puterinya dan mengambil tangan Fathimah serta menciumnya. “Bayangkan, orang-orang di zaman Nabi SAW itu berebut untuk mencium tangan Nabi SAW, tetapi saat itu, Nabi SAW malah mencium tangan orang lain. Dan siapakah tangan yang dicium Nabi SAW itu? Di antaranya adalah tangan puterinya, Sayyidah Fathimah Azzahra salamallahi ‘alaiha,” kata Kang Jalal menyambung kisah tentang tangan yang dicium Nabi SAW ini.</p>
<p>Mengapa Nabi SAW mencium tangan Sayyidah Fathimah? Ada sebuah riwayat, ketika hendak berangkat ke masjid, Salman al-Farisi mendengar tangisan anak-anak kecil, yaitu Hasan dan Husain dari rumah Fathimah. Saat singgah di rumah Fathimah, ia melihat sang ibu sedang sibuk menggiling gandum, dan tidak ada yang membantunya untuk mengurus anak-anaknya sehingga Salman menawarkan diri, “biarlah saya  yang menggiling gandum itu, dan ibunda yang mengurus anak-anak itu.” Ketika menggiling gandum, Salman melihat tangan Sayyidah Fathimah kasar, melepuh karena setiap hari bekerja keras tanpa seorang pun yang membantunya di rumah.</p>
<p>Fathimah Azzahra as sudah terbiasa bekerja keras tiap hari sambil mengurus anak-anaknya, bahkan pernah bekerja merajut (memintal) benang di rumah orang Yahudi, yang upahnya adalah sebungkus gandum yang dibuat roti untuk berbuka puasa. Suatu saat, ketika roti telah siap dihidangkan untuk berbuka, tiba-tiba ada yang berteriak-teriak dari luar rumah, “Ya Ahlulbait Nabi SAW, wahai keluarga Nabi, saya ini orang miskin yang datang dari kalangan kaum muslimin, saya sudah beberapa hari tidak makan, bantulah saya, wahai keluarga nabi !” Seketika itu juga, seluruh makanan yang ada di atas meja diserahkan kepada orang miskin itu, sehingga keluarga Nabi SAW tidak berbuka puasa kecuali hanya minum air saja.</p>
<p>Peristiwa tersebut terjadi tiga hari berturut-turut. Selama tiga hari itu, keluarga Nabi SAW tidak makan apa-apa karena makanan mereka semua diberikan kepada orang-orang miskin. Mereka memberikan makanan yang mereka perlukan kepada orang-orang miskin, anak-anak yatim, dan tawanan. Keluarga Nabi SAW berkata, “Kami memberi makan kepada kalian dengan tidak mengharapkan balasan dan terima kasih, kami memberikan makanan semata-mata karena Allah SWT.”</p>
<p>Pada kesempatan ini, Kang Jalal juga menukil riwayat. Ketika nabi SAW keluar dari masjid, seorang perempuan tua mengajaknya mengobrol lama sekali. Meskipun demikian, beliau mendengarkannya baik-baik sehingga para sahabat merasa kasihan karena Nabi SAW tidak dapat beranjak dari tempat duduknya karena mendengarkan perempuan tua itu. Demikianlah, menurut Kang Jalal, para sahabat ketika hendak menemui Nabi SAW, harus mencari di tengah-tengah orang miskin dan rakyat kecil. “Jangan cari Rasulullah SAW di tempat-tempat orang kaya, tidak akan ketemu di situ, ”selorohnya seraya mengutip hadits, “Kudzuni fi dhu’afaikum,” ‘Carilah aku di tengah-tengah orang kecil (miskin) di antara kamu’.</p>
<p>“Sekarang pun kalau kita mau mencari Rasulullah SAW, carilah di tengah-tengah orang miskin, karena tidak ada tempat yang paling dicintai Rasulullah SAW, selain tempat-tempat orang miskin, rakyat kecil, sampai beliau berdoa di tengah-tengah orang banyak, yang sampai sekarang tidak saya amalkan, “Allahuma ‘ahyini miskinan&#8230;,” ‘Ya Allah hidupkanlah aku di tengah-tengah orang miskin, wafatkanlah aku di tengah-tengah orang miskin, dan bangkitkanlah aku di hari kiamat bersama orang-orang miskin juga,” ungkapnya.</p>
<p>Ketika Aisyah, isteri Nabi SAW, meminta wasiat kepadanya, “Ya Rasulullah, aku ingin dekat dengan Allah, bagaimana caranya? Nabi SAW bersabda, “dekatilah orang-orang miskin, nanti kamu akan dekat dengan Allah, dekatilah orang-orang kecil.” Jadi Nabi Muhammad SAW sangat senang berada di tengah-tengah orang miskin. Dan Rasulullah SAW berkata lagi kepada Aisyah, “kepadaku diperlihatkan semua penghuni surga, ternyata yang aku saksikan kebanyakan penghuni surga itu adalah orang-orang miskin, dan kebanyakan penghuni neraka itu orang-orang kaya.”</p>
<p>Ketika orang-orang miskin bertanya, “Orang kaya itu enak, bisa bersedekah dan kami ini apa yang mau kami sedekahkan.” Rasulullah SAW menjawab, “bacalah oleh kalian ‘Subhanallah walhamdulillah walaa ilaahaillallah wallahu akbar’, itu sama nilainya dengan sedekah orang kaya.” Orang miskin itu bertanya lagi, “tetapi ya Rasulullah, orang kaya itu bisa baca zikir seperti itu.” Lalu Rasulullah bersabda, “ada di antara dosa-dosa yang tidak bisa ditebus oleh apapun kecuali dengan sulitnya mencari nafkah yang halal. Ada dosa yang tidak bisa ditebus dengan ratusan pergi haji, dan ada dosa yang tidak bisa ditebus dengan baca zikir itu, dan ada dosa yang tidak bisa ditebus dengan setinggi gunung emas sekali pun. Dan dosa itu hanya bisa ditebus dengan kesengsaraan dalam mencari nafkah yang halal, sulitnya mencari uang, itulah yang menjadi penghapus terhadap dosa-dosa.” Rasulullah SAW melanjutkan, “orang miskin lebih cepat masuk surganya ketimbang orang-orang kaya.” “Hal ini tidak berarti kita hanya mempertahankan kemiskinan, tetapi bagaimana kalau kita mau kaya apa dipaksakan juga, tentunya tindakan, yang memang susah kaya, yaa&#8230;gak bisa kaya,”  ujar Kang Jalal.</p>
<p>Nabi SAW sangat mencintai dan sangat senang berada di tengah-tengah orang miskin dan beliau mau mendatangi dan berkumpul dengan orang-orang yang menderita atau kesusahan. “Ketika membantu orang miskin, jangan berpikir bahwa kita membantu mereka, tidak demikian. Pada hakikatnya,merekalah yang beruntung karena telah membantu menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi SAW yang penuh berkah ini. Sayalah yang dibantu olah ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, dan para remaja karangtaruna di sini. Jadi, yang beruntung itu bukan kami yang memberi bantuan, tetapi warga sinilah yang telah membantu kami dari azab Allah,” demikian Kang Jalal mengakhiri ceramahnya. <strong>[]</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=45&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/tangan-yang-dicium-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abdal, Pemimpin Kafilah Ruhani Menuju Allah</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/abdal-pemimpin-kafilah-ruhani-menuju-allah/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/abdal-pemimpin-kafilah-ruhani-menuju-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 07:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/abdal-pemimpin-kafilah-ruhani-menuju-allah/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik: Membuka Tirai Kegaiban, Bandung, Mizan, 1995, h. 168-171. Dalam kafilah ruhani yang berjalan menuju Tuhan, kita melihat barisan yang panjang. Mereka yang berada dalam barisan mempunyai martabat yang bermacam-macam, bergantung pada sejauh mana mereka telah berjalan. Dari tempat berangkat ke tujuan, ada sejumlah stasiun yang harus mereka lewati. Derajat mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=44&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik: Membuka Tirai Kegaiban, Bandung, Mizan, 1995, h. 168-171.</strong></p>
<p>Dalam kafilah ruhani yang berjalan menuju Tuhan, kita melihat barisan yang panjang. Mereka yang berada dalam barisan mempunyai martabat yang bermacam-macam, bergantung pada sejauh mana mereka telah berjalan. Dari tempat berangkat ke tujuan, ada sejumlah stasiun yang harus mereka lewati. Derajat mereka juga bergantung pada banyaknya stasiun yang sudah mereka singgahi. Pada setiap stasiun selalu ada pengalaman baru, keadaan baru, dan pemandangan baru. angat sulit menceritakan pengalaman pada stasiun tertentu kepada mereka yang belum mencapai stasiun itu.</p>
<p>Dalam literatur tasawuf, stasiun itu disebut manzilah atau maqam. Pengalaman ruhani yang mereka rasakan disebut hal. Ada segelintir orang yang sudah mendekati stasiun terakhir. Mereka sudah sangat dekat dengan Tuhan, tujuan terakhir perja1anan mereka. Maqam mereka sangat tinggi di sisi Tuhan. Kelompok mereka disebut awliya&#8217;, kekasih-kekasih Tuhan. Mereka telah dipenuhi cahaya Tuhan. Sekiranya kita menemukan mereka, kita akan berteriak seperti teriakan orang munafik pada Hari Akhir, &#8220;Tengoklah kami (sebentar saja) agar kami dapat memperoleh seberkas cahayamu&#8221; (QS 57:13). <span id="more-44"></span></p>
<p>Dalam kelompok awliya&#8217; juga terdapat derajat yang bermacam- macam. Yang paling rendah di antara mereka (tentu saja di antara orang-orang yang tinggi) disebut awtad, tiang-tiang pancang. Disebut demikian karena merekalah tiang-tiang yang menyangga kesejahteraan manusia di bumi, kerena kehadiran merekalah Tuhan menahan murka-Nya; Tuhan tidak menjatuhkan azab yang membinasakan umat manusia. lbnu Umar meriwayatkan hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi, &#8220;Sesungguhnya Allah menolak bencana &#8211;karena kehadiran Muslim yang saleh&#8211; dari seratus keluarga tetangganya.&#8221; Kemudian ia membaca firman Allah, &#8220;Sekiranya Allah tidak menolakkan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya sudah hancurlah bumi ini&#8221; (QS 2: 251).</p>
<p>Penghulu para awliya&#8217; adalah quthb rabbani. Di antara quthb dan awtad ada abdal (artinya, para pengganti). Disebut demikian, kerena bila salah seorang di antara mereka meningggal, Allah menggantikannya dengan yang baru. &#8220;Bumi tidak pernah sepi dari mereka,&#8221; ujar Rasulullah Saw., &#8220;Karena merekalah manusia mendapat curahan hujan, karena merekalah manusia ditolong&#8221; (Al-Durr Al-Mantsur, 1:765).</p>
<p>Abu Nu&#8217;aim dalam Hilyat Al-Awliya&#8217; meriwayatkan sabda Nabi Saw., &#8220;Karena merekalah Allah menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, dan menolak bencana.&#8221; Sabda ini terdengar begitu berat sehingga lbnu Mas&#8217;ud bertanya, &#8220;Apa maksud karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?&#8221;&#8216; Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Karena mereka berdoa kepada Allah supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdoa agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Karena permohonan mereka, Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena doa mereka, Allah menolakkan berbagai bencana.&#8221; Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terimakasih khusus kepada mereka.</p>
<p>Kata Rasulullah Saw., &#8220;Mereka tidak mencapai kedudukan yang mulia itu karena banyak shalat atau banyak puasa.&#8221; Sangat mengherankan; bukanah untuk menjadi awliya&#8217;, kita harus menjalankan berbagai riyadhah atau suluk, yang tidak lain daripada sejumlah zikr, doa, dan ibadah-ibadah lainnya? Seperti kita semua, para sahabat heran. Mereka bertanya, &#8220;Ya Rasulullah, fima adrakuha?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Bissakhai wan-Nashihati lil muslimin&#8221; (Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum Muslim). Dalam hadis lain, Nabi berkata, &#8220;Bishidqil wara&#8217;, wa husnin niyyati, wa salamatil qalbi, wan-Nashihati li jami&#8217;il muslimin&#8221; (Dengan ketaatan yang tulus, kebaikan niat, kebersihan hati, dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim) (lihat Al-Durr Al-Mantsur, 1:767).</p>
<p>Jadi, yang mempercepat orang mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. bukanlah frekuensi shalat dan puasa. Bukankah semua ibadah itu hanyalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah, yang seringkali jauh lebih sedikit dari anugerah Allah kepada kita?</p>
<p>Yang sangat cepat mendekatkan diri kepada Allah, pertama, adalah al-sakha (kedermawanan). Berjalan menuju Allah berarti meninggalkan rumah kita yang sempit &#8211;keakuan kita. Keakuan ini tampak dengan jelas pada &#8220;aku&#8221; sebagai pusat perhatian. Seluruh gerak kita ditujukan untuk &#8220;aku&#8221;. Kebahagian diukur dari sejauh mana sesuatu menjadi &#8220;milikku.&#8221; Orang yang dermawan adalah orang yang telah meninggalkan &#8220;aku.&#8221; Ia sudah bergeser ke falsafah &#8220;Untuk Dia&#8221;.</p>
<p>Karena itu Nabi Saw. bersabda, &#8220;Orang dermawan dekat dengan manusia, dekat dengan Tuhan dan dekat dengan surga. Orang bakhil jauh dari manusia, jauh dari Tuhan dan dekat dengan neraka&#8221;. Tanpa kedermawanan, shalat, shaum, haji dan ibadah apa pun tidak akan membawa orang dekat dengan Tuhan. Dengan kebakhilan, makin banyak orang melakukan ibadat makin jauh dia dari Tuhan. Orang dermawan sudah lama masuk dalam cahaya Tuhan, sebelum mereka masuk ke surganya. Kedermawanan telah membawanya dengan cepat ke stasiun-stasiun terakhir dalam perjalanannya menuju Tuhan.</p>
<p>Kedua, yang mengantarkan orang sampai kepada kedudukan abdal, adalah kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim. Kesetiaan yang tulus ditampakkan pada upaya untuk menjaga diri dari perbuatan yang merendahkan, menghinakan, mencemooh atau memfitnah sesama Muslim. Di depan Ka&#8217;bah yang suci, Nabi Saw. berkata, &#8220;Engkau sangat mulia. Tetapi disisi Allah lebih mulia lagi kehormatan kaum Muslim. Haram kehormatan Muslim dirusakkan. Haram darahnya ditumpahkan.&#8221;</p>
<p>Belum dinyatakan setia kepada Islam sebelum orang meninggalkan keakuannya. Banyak orang merasa berjuang untuk Islam, walaupun yang diperjuangkan adalah kepentingan akunya, kepentingan kelompoknya, kepentingan golongannya. Mereka memandang golongan yang lain harus disingkirkan, karena pahamnya tidak menyenangkan paham mereka. Mereka hanya mau menyumbang bila proyek itu dijalankan oleh golongannya. Mereka hanya mau mendengarkan pengajian bila pengajian itu diorganisasi atau dibimbing oleh orang-orang dari kelompoknya. Apa pun yang diperjuangkan tidak pernah bergeser dari keakuannya. Ia merasa Islam menang apabila kelompoknya menang. Ia merasa Islam terancam bila kepentingan golongannya terancam. Ia telah beragama, ia telah mukmin; tetapi agamanya masih berkutat dalam keakuannya.</p>
<p>An-nashihat lil muslimin (kesetiaan yang tulus kepada kaum Muslim) melepaskan keakuan seorang mukmin. Ia memberinya kejujuran dalam ketaatan, ketulusan niat, dan kebersihan hati. Ia juga yang mengantarkannya kepada kedudukan tinggi di sisi Allah. Karena kedermawanan dan kecintaan kepada kaum Muslim, Anda juga dapat menjadi kekasih Tuhan.</p>
<p>Wahai hamba-hamba Allah, berangkatlah kalian menuju Tuhanmu. Percepatlah perjalanan kalian dengan kedermawanan dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim. <strong>[]</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=44&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/abdal-pemimpin-kafilah-ruhani-menuju-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mata yang Tidak Menangis di Hari Kiamat</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/mata-yang-tidak-menangis-di-hari-kiamat/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/mata-yang-tidak-menangis-di-hari-kiamat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 07:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/mata-yang-tidak-menangis-di-hari-kiamat/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik: Membuka Tirai Kegaiban, Bandung, Mizan, 1995, h. 165-167. Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt. Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16. Dalam surah itu, digambarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=43&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik: Membuka Tirai Kegaiban, Bandung, Mizan, 1995, h. 165-167.</strong></p>
<p>Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt. Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16. Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.</p>
<p>Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah pernah bersabda, &#8220;Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.&#8221; <span id="more-43"></span></p>
<p>Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat?</p>
<p>Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di teinpat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran. Ayat yang dibaca itu berbunyi: &#8220;Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kenudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).</p>
<p>Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt., sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.</p>
<p>Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.</p>
<p>Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujah orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, &#8220;Aku takut kepada Allah&#8221;.</p>
<p>Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.</p>
<p>Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti. <strong>[]</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=43&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/mata-yang-tidak-menangis-di-hari-kiamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Teladan</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/sebuah-teladan/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/sebuah-teladan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 07:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/sebuah-teladan/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Islam Aktual. Jalaluddin Rakhmat. Mizan, Jakarta 1991. Ini adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani. Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=42&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: Islam Aktual. Jalaluddin Rakhmat. Mizan, Jakarta 1991.</strong></p>
<p>Ini adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani.</p>
<p>Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra. <span id="more-42"></span></p>
<p>Dengan hati yang berat, Ali menghimpun pasukan. Ketika dia sampai di perbatasan Basra, di satu tempat yang bernama Alzawiyah, dia turun dari kuda. Dia melakukan shalat empat rakaat. Usai shalat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan air matanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdo&#8217;a: &#8220;Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, yang memelihara bumi dan apa-apa yang ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik &#8216;arasy nan agung. Inilah Basra. Aku mohon kepada-Mu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bay&#8217;ah-ku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslim.&#8221;</p>
<p>Ketika kedua pasukan sudah mendekat, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah ibn Abbas menemui pemimpin pasukan pembangkang, mengajak bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya, sambil mengangkat Al-Qur&#8217;an di tangan kanannya: &#8220;Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama Al-Qur&#8217;an. Jika tangannya terpotong peganglah Al-Qur&#8217;an ini dengan tangan yang lain; jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh.&#8221;</p>
<p>Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, tak seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan Al-Qur&#8217;an kepada anak muda itu, &#8220;Bawalah Al-Qur&#8217;an ini ke tengah-tengah mereka. Katakan: Al-Qur&#8217;an berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian.&#8221;</p>
<p>Tanpa rasa gentar dan penuh dengan keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat Al-Qur&#8217;an dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil Al-Quran dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslim. Akhirnya orang pun menebas lehernya.</p>
<p>Pejuang perdamaian ini rubuh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali ibn Abi Thalib. Ali mengucapkan do&#8217;a untuknya, sementara air matanya deras membasahi wajahnya. &#8220;Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian memulai menyerang mereka. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan merusak tubuh orang yang terbunuh. Bila kalian mencapai perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan memasuki rumah tanpa izin, janganlah mengambil harta mereka sedikit pun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mencemoohkan kamu. Jangan mengecam pemimpin mereka dan orang-orang saleh di antara mereka.&#8221;</p>
<p>Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu&#8217;awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur&#8217;an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal. <strong>[]</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=42&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/22/sebuah-teladan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Sebagai Agama</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/19/cinta-sebagai-agama/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/19/cinta-sebagai-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 06:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/19/cinta-sebagai-agama/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Jalal Center. Pada zaman dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. Ia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari ia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=41&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=163">Jalal Center.</a></strong></p>
<p>Pada zaman dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. Ia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari ia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya, “Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku dapat persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernafas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan domba-Ku ke hadapan kemuliaan-Mu.” <span id="more-41"></span></p>
<p>Suatu hari, Nabi Musa as melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia memperhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala yang mendongak ke langit.. Sang gembala menyapa Tuhan, “Ah, di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?”</p>
<p>Musa mendekati gembala itu dan bertanya, “Dengan siapa kamu berbicara?” Gembala menjawab, “Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, bumi dan langit.” Musa as murka mendengar jawaban gembala itu, “Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas supaya kamu dapat mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu!”</p>
<p>Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Ia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia mendengarkan Musa as yang terus berkata, “Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa, sehingga Ia harus memakai sepatu dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Ia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Mahasempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!”</p>
<p>Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh tapi ia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui dari siapa pun. Ia hampir tak dapat menahan tangisannya. Ia berkata kepada Musa, “Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak ini aku berjanji akan menutup mulutku untuk selamanya.” Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.</p>
<p>Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah Yang Mahakuasa menegurnya, “Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya.” Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut. Tuhan berfirman, “Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan daripadanya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna.”</p>
<p>Suara dari langit selanjutnya berkata, “Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri.” Tuhan kemudian mengajarkan Musa as rahasia cinta.</p>
<p>Setelah Musa as memperoleh pelajaran itu, ia mengerti kesalahannya. Sang Nabi pun merasa menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, ia berlari mencari gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari Musa as berkelana di padang rumput dan gurun pasir, menanyakan orang-orang apakah mereka mengetahui gembala yang dicarinya. Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeda. Hampir-hampir Musa kehilangan harapan tetapi akhirnya Musa as berjumpa dengan gembala itu. Ia tengah duduk di dekat mata air. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah tafakur yang dalam sehingga ia tidak memperhatikan Musa yang telah menunggunya cukup lama.</p>
<p>Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya dan melihat kepada sang Nabi. Musa as berkata, “Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku, bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apa pun yang kamu sukai, dengan kata-kata apa pun yang kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia.” Sang gembala hanya menjawab sederhana, “Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiran-Nya. Aku tak dapat menjelaskan keadaanku padamu dan kata-kata pun tak dapat melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku.” Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa as.</p>
<p>Nabi Musa as menatap gembala itu sampai ia tak kelihatan lagi. Setelah itu Musa as kembali berjalan ke kota terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.</p>
<p>Cerita di atas melukiskan kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang mengambil cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang telah meledakkan kecintaannya kepada Tuhan, dia tidak lagi dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan seluruh kecintaannya kepada Allah swt. Di dalam cinta, kata-kata menjadi tidak punya makna.</p>
<p>Dari kisah ini juga kita belajar bahwa untuk dapat mendekati Allah swt, tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi atau ilmu yang sangat mendalam. Salah satu cara utama untuk mendekati Tuhan adalah hati yang bersih dan tulus. Tidak jarang pengetahuan kita tentang syariat membutakan kita dari Tuhan. Tidak jarang ilmu menjadi hijab yang menghalangi kita dengan Allah swt.</p>
<p>Kita akhiri kisah ini dengan sabda Nabi saw, “Innallâha lâ yanzhuru illâ shuwarikum walakinallâha yanzhuru illâ qulûbikum. Ketahuilah, sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar kamu. Yang Tuhan perhatikan adalah hati kamu.” <strong>[]</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=41&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/19/cinta-sebagai-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Islamisme Ideal</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2007/01/17/mencari-islamisme-ideal/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2007/01/17/mencari-islamisme-ideal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 11:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2007/01/17/mencari-islamisme-ideal/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Jalal Center. Kira-kira dua bulan setelah saya masuk Islam, mahasiswa-mahasiswa Islam di universitas tempat saya mengajar mulai mengadakan pengajian setiap Jumat malam di masjid universitas. Ceramah kedua disampaikan oleh Hisyam, seorang mahasiswa kedokteran yang sangat cerdas yang telah belajar di Amerika selama hampir sepuluh tahun. Saya sangat menyukai dan menghormati Hisyam. Dia berbadan agak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=40&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=161">Jalal Center.</a></strong></p>
<p>Kira-kira dua bulan setelah saya masuk Islam, mahasiswa-mahasiswa Islam di universitas tempat saya mengajar mulai mengadakan pengajian setiap Jumat malam di masjid universitas. Ceramah kedua disampaikan oleh Hisyam, seorang mahasiswa kedokteran yang sangat cerdas yang telah belajar di Amerika selama hampir sepuluh tahun. Saya sangat menyukai dan menghormati Hisyam. Dia berbadan agak bulat dan periang, dan mukanya tampak sangat ramah. Dia juga mahasiswa Islam yang sangat bersemangat.</p>
<p>Malam itu Hisyam berbicara tentang tugas dan tanggung jawab seorang Muslim. Dia berbicara panjang lebar tentang ibadah dan kewajiban etika orang yang beriman. Ceramahnya sangat menyentuh dan telah berjalan kira-kira satu jam ketika dia menutupnya dngan ucapan yang tidak disangka-sangka berikut ini. <span id="more-40"></span></p>
<p>“Akhirnya, kita tidak dapat lupa &#8211; dan ini benar-benar penting &#8211; bahwa sebagai orang Muslim, kita wajib untuk merindukan, dan ketika mungkin berpartisipasi di dalamnya, yakni menggulingkan pemerintah yang tidak Islami &#8211; di mana pun di dunia ini &#8211; dan menggantinya dengan pemerintahan Islam.”</p>
<p>“Hisyam!” Saya mencela. “Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa warga negara Muslim Amerika harus melibatkan diri dalam penghancuran pemerintah Amerika? Sehingga mereka harus menjadi pasukan kelima di Amerika; suatu gerakan revolusioner bawah tanah yang berusaha untuk menggulingkan pemerintah? Apakah yang kamu maksudkan adalah jika seorang Amerika masuk Islam, dia harus melibatkan diri dalam pengkhianatan politik?!”</p>
<p>Saya berfikir begitu dengan maksud memberikan Hisyam suatu skenario yang sangat ekstrem, sehingga dapat memaksanya untuk melunakkan atau merubah pernyataannya. Dia menundukkan pandangannya ke lantai sementara dia merenungi pertanyaan saya sebentar. Kemudian dia menatap saya dengan suatu ekspresi yang mengingatkan saya terhadap seorang doktor yang hendak menyampaikan khabar kepada pesakitnya bahwa tumornya adalah tumor berbahaya. “Ya,” dia berkata, “Ya, itu benar.”</p>
<p>Dr. Jeffrey Lang, muslim Amerika yang juga profesor matematik di Universitas Kansas, menceritakan pengalaman di atas untuk menunjukkan betapa “absurdnya” gagasan mendirikan negara Islam bagi orang Islam di Amerika. “Bagi mereka, ide bahwa kaum Muslim – menurut agama mereka &#8211; berkewajiban untuk menyerang negara-negara yang tidak agresif seperti Swiss, , Ekuador atau jika mereka tidak mau tunduk kepada Islam sangat tidak masuk akal, ” kata Dr. Lang selanjutnya. Anehnya, di mana saja Dr. Lang menemukan wacana negara Islam ini dikemukakan, baik di meja diskusi ilmiah maupun di medan perang. Ia mencoba mencari sejak bila wacana ini muncul dan apa alasannya.</p>
<p><strong>Dar Al-Islam dan Dar Al-Harb</strong></p>
<p>Dari penelitiannya yang panjang, bukan sebagai orientalis tetapi sebagai pengamat partisipan, ia memperoleh beberapa kesimpulan. Pertama, ide “negara Islam” – al-dawlah al-islamiyyah &#8211; bermula dari keinginan untuk menjalankan syariat Islam dalam konteks sosial politik umat Islam kontemporer. Kedua, ide negara Islam ditunjang oleh konsep klasik dar al-Islam dan dar al-harb. Dunia ini dibagi dua. Satu bagian dunia diperintah dengan syariat Islam dan sisanya diperintah oleh aturan bukan ajaran Islam. Dalam bahasa Sayyid Quthub, dalam bukunya yang sangat revolusioner, Ma’alim fi al-Thariq, satu bagian hidup dalam lindungan al-nizham al-Islami, dan bahagian lain dalam al-nizham al-jahili. Dr. Lang merumuskannya dengan bagus:</p>
<p>Formulasi hukum politik ini memisahkan dunia menjadi dua wilayah yang tidak ada sangkut-pautnya; dar al-Islam, negara yang diperintah oleh kaum Muslim menurut syariah (hukum Islam), dan dar al-harb, negara yang tidak di bawah kendali orang Muslim yang mana harus di tundukkan dengan jalan, kalau perlu, penaklukkan, supaya tunduk di bawah pemerintahan Islam. Menurut teori ini, keadaan perang yang terus menerus terjadi antara wilayah Muslim dan non-Muslim. Banyak orang dalam dunia akademia dan media Barat menyatakan bahwa teori ini memperlihatkan karakter Islam yang suka perang.</p>
<p>Menurut teori Dar Al-Islam dan Dar Al-Harb (untuk selanjutnya saya sebut DIH), kita harus terus menerus dalam situasi berperang sebelum seluruh dunia ini diperintah oleh syariat Islam. Untuk itu, yang menjadi alasan utama adalah ayat Al-Quran surat Al-Taubah ayat 5, terkenal sebagai ayat pedang: Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p>Dalam penelitian Dr. Lang, semua ayat yang berkenaan dengan perang menyiratkan bahwa Islam memperkenankan peperangan hanya untuk mempertahankan diri atau membela korban-korban kesewenang-wenangan dan penindasan. Bahkan ayat pedang yang baru saja disebut, berkenaan dengan Perjanjian Hudaibiyah yang dilanggar oleh orang-orang musyrik. Sebahagian besar para ulama tafsir menyebutkan ayat pedang sebagai ayat yang “bertentangan” dengan ayat-ayat perintah perang dengan tujuan mempertahankan diri atau menentang penindasan. Untuk mengatasi “pertentangan” ini, dikemukakanlah teori nasikh-mansukh. Ayat-ayat yang melarang agresi ketenteraan (QS. Al-Baqarah; 191-193; QS. Al-Baqarah; 256; QS. Al-Nisa; 91; QS. Al-Anfal; 61), dimansukh oleh QS. Al-Taubah; 5. Dr. Lang mengutip teori nasikh-mansukh ini dari salah seorang aktivis, Muhammad Abdul Salam Faraj, yang di hukum gantung pada tanggal 15 April 1982 bersama dengan kelompok yang dituduh membunuh Presiden Anwar Sadat. Ia menulis dalam ‘kewajiban yang di lalaikan’:</p>
<p>Kebanyakan ahli tafsir menyatakan pendapat tertentu tentang ayat yang mereka sebut ayat pedang (QS. Al-Taubah; 5). Inilah ayat itu: “Apabila telah usai bulan-bulan haram itu, bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu menjumpai mereka, tangkap mereka, kepung mereka, dan sergap mereka.”</p>
<p>Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya: Al-Dahak ibn Muzahim berkata, “(Ayat ini) membatalkan perjanjian, kontrak, dan kesepakatan apa pun antara Nabi dan orang kafir.” Al-‘Ufi berkata tentang ayat ini, “Menurut Ibn ‘Abbas: Tidak ada persetujuan, tidak ada fakta pertahanan dengan orang-orang kafir yang dikenal setelah diturunkannya perintah pembatalan tuntutan kewajiban yang ditetapkan oleh perjanjian itu.”</p>
<p>Mufassir Muhammad ibn Ahmad ibn Juzzay Al-Kalbi berkata, “Pembatalan perintah untuk berdamai dengan orang-orang kafir, memaafkan mereka, berhubungan dengan mereka secara pasif, dan mentoleransi penghinaan-penghinaan mereka adalah sebelum perintah memerangi mereka. Oleh karena itu, tampaklah berlebihan jika pembatalan perintah hidup dengan damai bersama orang-orang kafir diulang dalam setiap bacaan Al-Quran. Perintah hidup secara damai dengan mereka disampaikan dalam 114 ayat yang tersebar di 54 surat. Semua ayat itu dihapuskan oleh ayat QS. Al-Taubah; 5 dan QS. Al-Baqarah; 216 (Ayat: Diwajibkan atas kamu untuk berperang).</p>
<p>Argumentasi nasikh-mansukh ini sudah kita ketahui sangat rentan kritik. Pertama, semua hadis yang dijadikan dalil nasikh-mansukh terhitung hadis yang lemah. Kedua, banyak pertentangan di antara para ulama tentang ayat yang dinasakh, dan dengan ayat mana ia dinasakh. Ketiga, formula teori nasikh-mansukh ini juga di ikhtilafkan di antara para ulama ‘Ulum Al-Quran. Keempat, nasikh-mansukh dikemukakan untuk “mendamaikan” ayat-ayat yang bertentangan; padahal Al-Quran sendiri menegaskan tidak ada pertentangan di dalamnya dan “akhirnya” menurut Dr. Lang, “Teori nasikh-mansukh ini kelihatannya mendakwa bahwa Tuhan menurunkan informasi yang berlebih dan dalam wahyu terakhir pada umat manusia sehingga Dia harus sering-sering menilai sendiri selama proses penyampaiannya. Persepsi ini sangat sulit di sesuaikan dengan gambaran Al-Quran tentang Tuhan. Tidak mengherankan cukup banyak muallaf Islam memberi tahu saya bahwa mereka betul-betul kaget dan keimanannya sangat tergoncang ketika pertama kali menemukan teori ini.”</p>
<p><strong>Pemerintahan Khilafah</strong></p>
<p>Kita tinggalkan Dr. Lang dan mencoba memahami teori “negara Islam” ini dari apa yang disebut oleh Eickelman dan Piscatori sebagai konsep baru yang dimunculkan para pemikir Islam abad kedua-puluh untuk “reinventing tradition.” Negara Islam dapat dihubungkan dengan sistem khalifah, yang merujuk pada pemerintahan Khulafa Al-Râsyidin. Sistem khalifah adalah tradisi pertama dalam menerapkan syariat Islam pada kehidupan bernegara. Abu Al-Hasan Al-Mawardi (991-1058) merumuskan konsep khilafah ini dalam makalahnya yang terkenal Kitab Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah. Menurut Al-Mawardi, pemerintah Islam diperlukan untuk melaksanakan syariat Islam. Adalah pembaharu Islam dari Mesir, Sayyid Rasyid Ridha, yang menghubungkan sistem khalifah ini dengan konsep negara Islam. Ia melihat sistem khilafah yang dijalankan oleh empat khalifah yang pertama sebagai contoh ideal pemerinatahan Islam. Hukumat Al-Khilafah adalah al-khilafah al-Islamiyyah. Karena tidak mungkin kita menghidupkan kembali sistem khilafah, kita aplikasikan sistem khilafah pada negara Islam modern.</p>
<p>Sudah banyak kritik pada sistem khilafah ini. Tidak mungkin tulisan singkat ini meliput semua argumentasinya. Saya hanya akan menyampaikan pokok-pokok argumentasi terhadap sistem khilafah. Pertama, sistem pemerintahan khulafa al-rasyidin itu – bila mempelajari tarikh agak mendalam &#8211; tidaklah seideal seperti yang digambarkan. Saya takut menyebutkan contoh-contohnya karena pembaca akan menganggap saya “menyerang kesucian para sahabat Nabi”. Cukuplah saya mengutip lagi, pernyataan Munawir Sadzali, yang menyebut sahabat Nabi itu sebagai “political animals”. Kedua, di antara para khalifah itu sendiri terdapat perbedaan sistem pemerintahan. Misalnya, dalam hal pengangkatan ketua pemerintahan. Abu Bakar dipilih melalui perhimpunan singkat dan tergesa-gesa –menurut Umar bin Khaththab “faltah”- di Saqifah Bani Sa’idah. Tidak semua yang hadir dalam rapat itu setuju dengan pemilihan Abu Bakar. Umar diangkat melalui surat semacam “Supersemar” oleh Abu Bakar ketika ia sakit. Surat itu sendiri ditulis oleh Utsman yang kemudian menisbahkan surat itu kepada Abu Bakar tanpa seorang saksi pun. Utsman ditunjuk oleh Dewan Pembentukan yang semua anggotanya diangkat oleh Umar menjelang kematiannya. Ali diangkat atas desakan penduduk Madinah yang baru saja mengalami kerusuhan karena pembunuhan Utsman. Sebagai tambahan, tidak perlu disebutkan bahwa setiap khalifah yang empat itu memerintah dengan gaya yang berbeda.</p>
<p>Kedua, secara historis sistem khilafah ini tidak pernah dijadikan rujukan pemerintahan, kecuali ketika Utsmaniyyah mengalami keruntuhan pada abad XVIII dan XIX. Penguasa Utsmaniyyah ingin memberikan legitimasi kepada kekuasaannya dengan menemukan kembali tradisi khilafah. Disebarkan juga cerita bahwa sebelum kejatuhannya, khalifah terakhir Abbasiyyah menitipkan khilafah kepada Usmaniyyah, dengan begitu dibuatlah silsilah sampai kepada Rasulullah saw. “There were obvious political reasons why Ottoman sultans of the age of decline reformulated an appropriated the classical theory of the caliphate,” kata Halil Inalcik dalam The Cambridge Historical Islam.</p>
<p>Ketiga, berkaitan dengan fungsi khilafah sebagai pelaksana syariat Islam, kita melihat apa yang disebut sebagai syariat Islam itu berubah-ubah sepanjang sejarah. Pada pemerintahan reformasi Ottoman – tanzimat 1839-1876 – dibuat perundangan tentang hukum pidana dan dagang di Eropah. Di Mesir, undang-undang tentang waqaf dirumuskan berbeda dengan ketentuan waqaf seperti ada pada kitab-kitab fiqih klasik. Bahkan Arab Saudi, yang terkenal konservatif, telah mengundang-undangkan The Social Insurance Law, yang berbeda dengan fiqih klasik tentang faraidh. Di Iran sekarang telah terjadi banyak perundangan baru yang dianggap bagian dari syariat Islam, tetapi berbeda dengan kompendium fiqih klasik. Walhasil, dakwaan bahwa syariat Islam tidak berubah-ubah memerlukan pemikiran lagi kita semua.</p>
<p><strong>Wilayat Al-Faqih</strong></p>
<p>Dari khazanah Ahlus Sunnah, kita berpindah ke khazanah Syiah. Konsep negara Islam dirumuskan oleh Imam Khomeini dalam wilayat al-Faqih. Saya juga tidak akan mengulang kembali konsep ini yang sudah saya tulis pada tempat lain. Pada pokoknya, para fuqaha adalah orang yang melanjutkan kepemimpinan para Nabi dari para imam. Konsep wilayat al-Faqih ini sedang dan telah mengalami modifikasi berkali-kali. Kita dapat membuat rentangan konsep ini dari dalam spektrum dari statis ke populis. Wilayat al-Faqih Syaikh Jawad Mughniyyah sangat populis; sedangkan wilayat al-Faqih dari Ayatullah Khayri sangat statis.</p>
<p>Walaupun konsep ini lahir dari ijtihad ulama Syiah, di kalangan Ahlus Sunnah pun kita melihat kecenderungan untuk mengartikan negara Islam sebagai negara yang diperintah oleh ahli fiqih. Anda dapat menemukan konsep ini bahkan pada konsep politik dari para ulama Partai Islam SeMalaysia (PAS), setelah memenangkan pemilu kebelakangan ini. Syariat tidak lain daripada ketentuan hukum sebagaimana dirumuskan oleh para ulama.. Saya agak ngeri membayangkan hidup dalam pemerintahan Islam seperti ini di . Para ulama mungkin sepakat untuk memutuskan bahwa saya murtad, dan karena itu harus dihukum mati. Atau, seperti , saya akan ditembak karena tidak berjanggut.</p>
<p><strong>Kesatuan Al-Din dan Al-Dawlah</strong></p>
<p>Imam Khomeini, seperti juga para pemikir Islam lainnya, menegakkan argumentasi tentang negara Islam pada ketidak-terpisahan antara agama dan negara dalam Islam. Bukankah sangat aneh bila Islam yang mengatur kaki mana yang masuk ke tandas tetapi tidak mengatur negara; padahal negara sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Kesatuan antara al-din dan al-dawlah juga sering di nisbahkan kepada Nabi saw yang menghimpun dalam dirinya kekuasaan spiritual dan politik sekaligus.</p>
<p>Pada prinsipnya, saya setuju dengan kesatuan agama dan negara; namun tidak dalam pengertian keharusan mendirikan negara agama Islam. Saya sependapat dengan kesatuan the religious dan the political; tetapi tidak dalam bentuk Islamic State. Dalam makalah ini saya tidak akan memperincikan bentuk alternatif ini kecuali sekadar menegaskan bahwa keterlibatan Islam dalam politik harus ditujukan untuk menegakkan keadilan, menentang tirani, membela mustadhafin, memajukan perdamaian, dan kesejahteraan umat manusia. Pada bagian terakhir ini, saya juga hanya ingin menyampaikan beberapa kesukaran untuk mempertahankan konsep kesatuan agama dan negara sebagai karakteristik khas ajaran Islam (saya merujuk kepada Eickelman dan Piscatori lagi dalam Muslim Politics).</p>
<p>Pertama, tidak adanya pemisahan antara urusan negara dengan urusan agama bukan hanya khas Islam. Moral Majority di Amerika, teologi pembebasan di negara-negara Amerika Latin, aktivis Sikh di India, pendeta Budha di Myanmar dan Vietnam, semua berpendapat bahwa urusan negara tidak dapat dipisahkan dari urusan agama. Kedua, karena agama tidak dapat dipisahkan dari politik maka seluruh kehidupan menjadi sangat politis. Muatan politik yang mencakup berbagai kegiatan muslim menyebabkan umat Islam tidak mampu dan tidak merasa perlu membangun struktur politik. Ketiga, penegasan kesatuan ini menegaskan persepsi kaum orientalis bahwa politik Islam, berbeda dengan politik yang lain adalah politik yang tidak rasional, emosional, tak terkendalikan dan sulit diramalkan. Kembali kepada cerita Dr. Lang, orang yang menganut fahaman negara Islam memperkuat anggapan Barat bahwa Islam adalah agama kekerasan, agama agresif, agama yang tidak dapat diajak berdamai.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Saya tidak punya kesimpulan apa pun. Tulisan ini dibuat tidak sebagai tulisan ilmiah. Ia hanyalah kumpulan coretan dan renungan saya selama ini. Saya tidak tahu apakah hasil refleksi ini konstruktif atau destruktif. Yang pasti, pandangan saya dalam tulisan ini sudah berbeda jauh dengan pandangan politik saya sebelumnya. Terserah kepada Anda untuk menerima atau menolaknya. Jika Anda ikut merenungkan kembali pandangan Anda sebelumnya, Anda sudah bergabung bersama saya. Tidak dalam partai politik, tetapi dalam “reinventing traditions.” <strong>[]</strong></p>
<p><strong>Catatan:</strong> Makalah Jalaluddin Rakhmat ini merupakan hasil dari sebuah diskusi di Kelab Kajian Agama Paramadina, Jakarta, 20 Oktober 2000.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=40&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2007/01/17/mencari-islamisme-ideal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Semua Agama itu Benar?</title>
		<link>http://tuban.wordpress.com/2006/12/27/mengapa-semua-agama-itu-benar/</link>
		<comments>http://tuban.wordpress.com/2006/12/27/mengapa-semua-agama-itu-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Dec 2006 07:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tuban</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tuban.wordpress.com/2006/12/27/mengapa-semua-agama-itu-benar/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Majalah Tempo Edisi 44/XXXIII/26 Des-01 Jan. M. Dawam Rahardjo Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa semua agama itu pada hakikatnya sama, dan hanya penampilannya saja yang berbeda-beda. Tapi secara keseluruhan, bangunan agama itu nampak sama atau serupa, atau dapat diabsraksikan menjadi sesuatu yang sama. Dua orang tokoh pluralis agama, Dr. M. Syafii Anwar (MSA), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=39&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: Majalah Tempo Edisi 44/XXXIII/26 Des-01 Jan.</strong></p>
<p><em>M. Dawam Rahardjo</em></p>
<p><strong>Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa semua agama itu pada hakikatnya sama, dan hanya penampilannya saja yang berbeda-beda. Tapi secara keseluruhan, bangunan agama itu nampak sama atau serupa, atau dapat diabsraksikan menjadi sesuatu yang sama.</strong></p>
<p>Dua orang tokoh pluralis agama, Dr. M. Syafii Anwar (MSA), Direktur The International Centre for Islam and Pluralism (ICIP) dan Budhy Munawar-Rachman (BMR), mantan Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina, punya persepsi berbeda mengenai pluralisme. MSA, lebih menekankan pandangan mengenai perbedaan agama-agama atau pluralitas agama-agama sebagai premis paham pluralisme agama. Sementara BMR sebaliknya; ia menganut paham pluralisme berdasarkan pandangan bahwa semua agama itu sama-sama baik dan benar. <span id="more-39"></span></p>
<p>Persepsi yang pertama itu diterima sebagai kenyataan oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tapi pluralisme menurut BMR ditolak, karena pluralisme dinilai sebagai suatu paham. Yang pertama bersifat obyektif, sedangkan yang kedua subyektif. Namun, yang menarik adalah, kedua tokoh pemikir muda yang sama-sama berhaluan Islam liberal itu tidak saling mengklaim bahwa persepsinya yang benar dan karena itu tidak saling berbantah. Bahkan keduanya nampak saling membenarkan karena sama-sama memahami bahwa perbedaan itu sebenarnya disebabkan perbedaan titik pandang atau perbedaan dasar teori saja, tapi mengarah pada perspektif yang sama, yaitu pluralisme.</p>
<p>Memang, bagi kaum pluralis, pluraritas agama-agama adalah suatu kenyataan. Tapi justru berdasarkan kenyataan itu, diperlukan suatu paham pluralisme (pluralism is needed to deal with plurality). Hal ini sesuai dengan definisi pluralisme itu sendiri, yaitu “suatu paham mengenai pluralitas” (pluralism is an ism about plurality) Karena itu, tidak bisa disikapi bahwa pluralitas diterima sebagai kenyataan, sedangkan pluralisme ditolak sebagai suatu paham. Namun jika pluralisme ditolak juga, maka hal itu disebabkan ketidak-pahaman, kesalah-pahaman tentang, atau kecutigaan. Misalnya karena pluralisme itu dikaitkan dengan ideologi politik tertentu atau dengan konspirasi global dari Barat.</p>
<p>Penolakan dari pihak Islam juga disebabkan penilaian bahwa pluralisme itu adalah suatu teologi yang lahir dengan latar belakang Kristiani di Barat. Buktinya, pelopor pluralisme agama adalah William Cantwell Smith, John Hick, Hans Kung, atau Leonard Swindler, kesemuanya adalah para pemikir dan teolog Kristen, walau ada juga teolog atau filsuf muslim yang juga berpaham pluralis, seperti Sayed Hosen Nasr, F. Schoun, dan Hasan Askari. Tapi baik pluralisme yang bertitiktolak dari segi perbedaan agama-agama maupun semua agama itu baik dan benar, keduanya tetap saja ditolak. Alasannnya, paham pluralisme agama bisa menyebabkan pelemahan akidah. Jika semua agama itu dianggap benar dan sama, maka orang akan mudah berganti agama. Tapi yang lebih penting adalah pernyataan bahwa pandangan semua agama itu baik dan benar, bertentangan dengan akidah Islam atas dasar dalil “Sesungguhnya agama yang diterima oleh Allah itu (hahya) Islam” (Q.S. Ali Imran: 18). Karena itu, pandangan yang dianggap benar adalah: Semua agama itu salah, kecuali Islam, atau hanya Islam sajalah agama yang benar.</p>
<p>Karena kenyataan tentang pluralitas itu tidak menimbulkan kontroversi, maka yang perlu dijelaskan adalah apa maksud pandangan bahwa “semua agama itu baik dan benar?” Pertama, pernyataan bahwa semua agama itu baik dan benar perlu dijelaskan dengan keterangan “bagi para pemeluknya”. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa setiap pemeluk agama akan berkeyakinan bahwa agama merekalah yang paling baik dan benar. Karena itu, pernyataan bahwa “Sesungguhnya agama yang diterima oleh Allah itu (hanya) Islam”, hanya benar bagi orang Islam. Sedang umat Kristen, tentu akan berpendapat bahwa “keselamatan hanya ada dalam (iman kepada) Kristus”, sebagaimana dinyatakan oleh Vatikan sebelum tahun 1965. Setelah itu, Konsili Vatikan mengakui bahwa keselamatan itu juga terdapat (bisa melalui) agama-agama lain, sebagai pandangan baru atau qaul jadid. Bahkan secara khusus, Vatikan sangat menghargai iman Islam. Namun tetap boleh saja dilakukan klaim bahwa agama tertentulah yang benar, tetapi bagi pemeluknya masing-masing.</p>
<p>Kedua, kebenaran dan keselamatan (salvation) agama itu ada dua macam. Yang satu kebenaran eksklusif, yang lain kebenaran inklusif. Kebenaran eksklusif adalah kebenaran tertentu yang hanya diyakini dalam agama tertentu. Misalnya mengenai doktrin Trinitas. Umat Islam tidak mungkin menerima doktrin itu, namun doktrin itu bersifat fundamental bagi umat Kristen. Sedangkan ajaran cinta kasih dalam agama Kristen adalah kebenaran inklusif yang bisa diterima oleh pemeluk semua agama.</p>
<p>Ketiga, semua agama itu sama, dalam arti semua agama itu, dalam perspektif masing-masing, pada hakikatnya merupakan jalan menuju kebenaran dan kebajikan. Tidak ada agama yang mengajarkan kesalahan atau keburukan dan kejahatan. Namun memang, substansi dari kebenaran dan kebaikan itu berbeda dari satu agama ke agama yang lain.</p>
<p>Keempat, setiap agama mengandung kebenaran, bukan saja bagi pemeluk agama yang bersangkutan, tetapi juga bisa dilihat begitu oleh pemeluk agama lain. Sebagai contoh, umat Islam atau Kristen bisa memetik kebenaran dari Kitab Baghawatgita atau buku-buku Taoisme dan Konfusianisme. Itulah sebabnya Raja Penyair Pujangga Baru, yang juga dianggap sebagai seorang penyair sufi, menerjemahkan Baghawatgita dan puisi-puisi Timur yang secara khusus dihimpun dalam kumpulan sajak “Setanggi Timur”. Karena itu, mengapa para pemeluk agama tidak saling mempelajari agama-agama lain untuk dapat memetik hikmah dan kearifan hidup dari ajaran agama-agama lain? Tidak ada salahnya atau tidak berdosa bagi kaum pluralis untuk mengutip hikmah dari ajaran agama-agama lain dalam khotbah di masjid atau gereja.</p>
<p>Kelima, terdapat kesamaan antara agama-agama. Misalnya ajaran the Ten Commantments atau Sepuluh Perintah Tuhan dari agama Yahudi, dapat ditemui juga pada agama-agama lain. Ajaran puasa juga dapat ditemui pada agama-agama lain, walau tidak semua pemeluk agama bisa melestarikan tradisi itu pada zaman modern ini. Namun para pemeluk agama lain bisa menganggap bahwa ajaran puasa itu adalah suatu ajaran yang benar, karena tujuannya adalah mendidik kemampuan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu (takwa).</p>
<p>Keenam, semua agama itu pada lahir atau detailnya, atau pada tingkat syari’at memang bervariasi, karena pada tingkat itu sudah berperan pemikiran dan perumusan manusia yang dipengaruhi oleh kondisi dan sejarah. Namun pada tingkat yang lebih tinggi (tarekat dan makrifat) akan dijumpai persamaan-persamaan dan akhirnya mencapai titik temu pada tingkat trensenden (hakikat). Ini adalah teori yang disebut transcendent unity yang dikembangkan baik oleh teolog Kristen maupun muslim, walau dalam wacana timbul pro dan kontra. Di lingkungan Islam, teori semacam ini dikemukakan oleh para sufi seperti al-Hallaj, Ibn al-Arabi dan Jalaluddin Rumi, dan dikembangkan oleh Sayed Hosen Nasr, F. Schuon, dan Hasan Askari, dari teolog modern. Ketujuh, semua agama dipandang sama dan benar dimaksudkan sebagai pandangan yang harus diambil oleh negara atau pemerintah. Sebab, negara yang harus bersikap adil terhadap setiap individu dan kelompok, tidak boleh berpandangan bahwa hanya suatu agama saja yang baik dan benar, sedangkan yang lain salah. Inilah sebenarnya salah satu unsur dari sekularisme yang dianut dalam sebuah negara yang demokraris, termasuk di Indonesia. Tapi di Indonesia sendiri yang berideologi Pancasila, juga memandang setiap agama itu benar dan baik. Dengan begitu, setiap agama diharapkan berkontribusi terhadap pembangunan negara dan masyarakat.</p>
<p>Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa semua agama itu pada hakikatnya sama, dan hanya penampilannya saja yang berbeda-beda. Tapi secara keseluruhan, bangunan agama itu nampak sama atau serupa, atau dapat diabsraksikan menjadi sesuatu yang sama. Misalnya, Swidler bisa merumuskan bahwa semua agama itu terdiri dari empat aspek yang disebut 4C, yaitu creed (akidah), cult (peribadatan), code (pedoman perilaku atau akhlak), dan community structure (struktur kemasyarakatan). Hanya saja, isi dan substansi dari setiap C itu berbeda-beda. Karena itulah dikatakan, agama-agama itu ide dasarnya sama, tetapi berbeda isi dan eksperasinya.</p>
<p>Pluralisme memang memiliki beberapa dan bukan hanya satu perspektif saja. MUI agaknya keberatan terhadap pluralisme karena hanya melihat satu perspektif saja, yaitu kemungkinan timbulnya sinkretisme. Pihak Kristen, sebagai agama besar dan tentu juga memiliki kelompok fundamentalis, juga keberatan terhadap perspektif ini. Salah satu agama sinkretisme adalah agama Baha’i atau Agama Jawa, sehingga timbul gerakan purifikasi di Indonesia yang dipelopori oleh Muhammadiyah yang dinilai berpaham puritanisme. Tapi sebenarnya, ada beberapa perspektif lain dengan tingkat penerimaan yang berbeda-beda dari agama-agama.</p>
<p>Pertama adalah persepktif persatuan agama-agama (unity of religions). Persepktif ini sudah banyak diwacanakan di Barat, juga di kalangan Islam. Di kalangan Islam juga sudah dikenal konsep “Kesatuan Agama-Agama” (wahdatul adyân) yang berkembang terutama di kalangamn sufi. Tujuan dari perspektif ini adalah agar agama-agama itu tidak terpecah-belah dan bertengkar satu sama lain, lalu bersatu menghadapi, misalnya ateisme, agnostisme, dan marjinalisasi eksistensi dan peran agama-agama di dunia modern. Namun dalam persatuan itu, identitas agama-agama tidak perlu dilebur seperti dalam sikretisme.</p>
<p>Kedua, terbentuknya “Agama Kewargaan” (civil religion). Kalangan Kristen banyak yang keberatan dengan Agama Kewargaan ini. Namun konsep ini sudah berkembang di Amerika Serikat. Hanya saja, bahan bakunya berasal dari ajaran agama Kristen dan Yahudi yang telah dibumikan (mengalami rasionalisasi dan objektivikasi dalam bumi AS). Dalam masyarakat yang lebih plural agama, bahan bakunya bisa digali dari semua agama-agama dunia. Konsep ini menghimpun semua elemen kebenaran inklusif dari semua agama untuk dijadikan pedoman perilaku bagi warga negara. Tapi “agama” ini tidak disucikan sebagai suatu akidah keagamaan. Namun kaum Kristen juga keberatan dengan konsep ini, karena dianggap melemahkan kedudukan agama-agama, khususnya Kristen. Dalam kenyataannya, agama Kristen formal justru berkembang sangat marak di AS, dengan indikator tingkat kunjungan ke gereja yang makin tinggi.</p>
<p>Ketiga adalah harapan terbentuknya Etika Global (global ethics). Konsep ini dikembangkan oleh Hans Kung dan Leonard Swindler, keduanya adalah rohaniawan Katolik. Konsep ini sebenarnya berlatarbelakang Eropa, karena di kawasan itu, agama—khususnya Kristen—telah mengalami marjinalisasi yang ditandai oleh tutupnya gereja-gereja karena sepi pengunjung. Masyarakat Eropa tidak lagi menjadi penganut agama formal, tapi mengikuti etika umum. Masyarakat AS dianggap paling religius tetapi kurang etis, sebaliknya masyarakat Eropa dianggap tidak religius tetapi sangat etis. Di Jepang, agama-agama Sinto, Buddha, atau Konfusianisme, juga menyurut sebagai agama formal, tetapi masyarakat Jepang memiliki etika yang sangat tinggi. Di tingkat global, agama formal tampaknya juga menyurut karena saling berkelahi, tetapi spiritualisme marak.</p>
<p>Keempat, berkembangnya “Agama Publik” (public religion). Gagasan ini sebenarnya adalah reaksi terhadap sekularisasi agama yang sebagai kredo dan sistem peribadatan memang telah mengalami sekularisasi dan privatisasi, namun doktrin sosial agama ingin dihidupkan kembali, sehingga agama punya peran dalam wacana publik, di tingkat kebangsaan maupun global. Tetapi berbeda dengan agama privat yang sifatnya suci, konsep agama publik bersifat profan. Di dunia Islam, konsep “ekonomi syari’ah” umpamanya, dapat disebut sebagai salah satu contoh Agama Publik yang bisa diikuti tidak saja oleh orang Islam, tetapi juga pemeluk agama lain. Dosen-dosen ekonomi syari’ah di Wolongong University Australia, adalah para pastor. Di sini, ekonomi syari’ah dianggap sebagai suatu “kebenaran objektif”.</p>
<p>Namun dalam teorinya, unsur-unsur agama lain, misalnya manajemen Taoisme, dapat pula diintegrasikan ke dalam konsep ekonomi syari’ah, sepanjang tidak menyangkut akidah yang mensyaratkan keimanan, sebab ekonomi syari’at sendiri juga tidak mensyaratkan keimanan. Ekonomi syari’ah dilaksanakan oleh City Bank atau HSBC (Hongkong-Shanghai Banking Corporation), bukan karena nasabah percaya kepeda kebenaran ayat suci Alqur’an, melainkan karena penilaian bahwa sistem syari’ah itu mencerminkan keadilan dan kebersamaan, umpamanya.</p>
<p>Kelima, perspektif yang paling dikenal dari pluralisame agama adalah untuk mencapai kesetaraan agama-agama, toleransi dan kerukunan antar umat beragama, serta kerjasama untuk kepentingan bersama yang di Indonesia didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Dengan menyadari perbedaan maupun persamaan agama-agama, terbuka ruang bagi dialog. Dari sudut pandang umat Islam, pluralisme dapat dilaksanakan berdasarkan tiga cara, yaitu saling memahami untuk mencapai salingpengertian dan penghargaan (ta`âruf), berloma-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khairât), dan kerjasama dalam takwa dan kebajikan (ta`âwun). <strong>[]</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tuban.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tuban.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tuban.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tuban.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tuban.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tuban.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tuban.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tuban.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tuban.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tuban.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tuban.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tuban.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tuban.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tuban.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tuban.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tuban.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tuban.wordpress.com&amp;blog=503208&amp;post=39&amp;subd=tuban&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tuban.wordpress.com/2006/12/27/mengapa-semua-agama-itu-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4355f1595a1639218425c9ab5cada147?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tuban</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
