Rahmat Tuhan Tidak Terbatas

Banyak Jalan Menuju Tuhan

Dari Syariat ke Fikih?

Posted by tuban on October 27, 2006

Sumber: Jalaludin Rakhmat, Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, Bab 3, Bandung: Muthahhari Press, 2002.

Waktu itu, lewat pukul sembilan malam, 18 Januari 2002, di al Markaz al-Islami, Makassar. Ruang bawah bangunan itu sudah dipenuhi banyak orang. Semua hadirat mengenakan busana muslimah. Sebagian besar hadirin memakai berbagai macam busana muslimah. Di samping saya duduk moderator, Qasim Mathar, seorang pemikir Islam Makassar, kolumnis surat kabar. Ia mempersilakan saya untuk berbicara sebentar, sebagai pengantar sebuah diskusi besar: “Menegakkan Syariat Islam dalam Kkehidupan Bernegara.” Hadir di majelis itu juga Komite Penegak Syariat Islam (KPSI) Sulawesi Selatan.

Hati saya gemetar . Saya kurang percaya diri atau barangkali ketakutan. Di hadapan saya telah berkumpul para ulama yanag pengetahuannya tentang syariat Islam jauh lebih tinggi ketimbang saya. Di situ juga ada para mujahid Islam, yang siap mengurbankan nyawanya untuk penegakkan syariat Islam. Tidak mungkin saya mendebat para ulama dengan kekuatan ilmu. Saya pasti kalah. Tidak mungkin juga saya mendebat para mujahid Makassar dengan ilmu kekuatan. Saya pasti kalah.

Jadi, seperti Musa a.s., saya berdoa dalam hati, “Tuhanku, legakan dadaku. Mudahkan urusanku. Lepaskan kendali lidahku. Buatlah mereka paham akan pembicaraanku!”

Setelah membaca hamdallah dan salawat dan salam kepada Nabi saw, saya berkata, “Saudara-saudara, saya tidak akan membahas syariat Islam dengan mengemukakan dalil-dalil dari Al Quran dan Sunnah. Saudara-saudara pasti lebih tahu. Izinkanlah saya menyampaikan pengalaman saya dalam menegakkan syariat Islam. Katakanlah, pendekatan saya kali ini adalah pendekatan fenomenologis.

Kakek saya punya pesantren di puncak bukit kecil di Kabupaten Bandung. Ayah saya adalah kiai yang cukup berpengaruh di desanya, sehingga ia terpilih sebagai lurah dengan suara terbanyak. Tidak banyak yang saya ketahui dari masa kecil saya. Tetapi saya tidak akan melupakan hari ketika ayahku menghilang di kegelapan malam. Ia diburu tentara karena dianggap mendukung gerakan DI/TII. Ibu saya melahirkan adik saya dengan moncong senapan di hadapannya. Mulai saat itu, sampai menjelang perkawinan, saya mirip anak yatim. Ayah saya hanya saya kenal melalui tulisannya. Dalam bahasa sunda, yang ditulis dengan huruf arab, ia mengisahkan renungannya di tempat persembunyiannya. Ia menulisnya dalam bentuk pupuh atau macapat.

Buku itu sudah hilang. Yang masih menempel dalam ingatanku hanya doanya yang khusus bagiku. Ia berharap saya menjadi pejuang besar, berilmu, berani, teguh pendirian. Saya didoakan untuk membawa Islam ke mana pun saya pergi. Saya juga diharapkan meneruskan perjuangannya untuk menjadikan Indonesia sebagai ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur’. Misi hidupku sudah dirumuskan ayahku dalam pupuh pangkur yang secara istimewa dipersembahkan untukku. Saya harus menjadi lalaki langit lalanang jagat. Dengan semboyan “yuqtal aw yaghlib”, terbunuh atau menang, saya harus menegakkan syariat Islam di dunia ini.

Masa muda saya dihabiskan dalam gerakan keislaman. Saya sering dengan geram mengecam para tokoh nasional yang menghilangkan tujuh kalimat ‘dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya‘ dari pembukaan UUD 45. Ini pengkhianatan terbesar terhadap umat Islam. Saya berulang kali dipanggil tentara, karena dianggap Islam ekstrem. Dekan saya memecat saya sebagai pegawai negeri. Saya berdebat menentang Nurcholish Madjid. Saya mewakili kelompok yang ingin menegakkan syariat Islam; dan Nurcholish–dalam pandangan saya pada waktu itu–orang yang membenci syariat Islam. Saya percaya betul bahwa negara Republik Indonesia hanya akan selamat sejahtera bila ditegakkan syariat Islam. Negara ini didirikan dengan darah para syuhada. Nurcholish and his gang adalah kelompok sekular yang ingin memisahkan Islam dari negara. Mereka melanjutkan perjuangan orang Barat yang telah lama memisahkan gereja dari negara. Media masa nasional menampilkan saya sebagai cendekiawan yang berseberangan dengan Nurcholish.

Keinginan saya untuk mendirikan negara Islam membawa saya untuk menjelajah dan mengamati berbagai negara yang sudah menerapkan syariat Islam. Perjalanan itu hanya menghasilkan satu hal: kekecewaan. Syariat Islam yang diterapkan tidak memenuhi harapan saya akan keadilan.

Pada suatu negeri, rekan bisnis saya melanggar kontrak yang sudah disepakati. Ketika saya bermaksud menuntutnya, ia menyatakan bahwa dalam syariat Islam yang berlaku di negara itu, tidak ada tuntutan untuk pelanggaran kontrak. Pada negeri Islam yang lain, seorang gadis yang hamil dihukum rajam, sementara lelaki yang menghamilinya dibebaskan. Menurut syariat Islam, tuduhan berzina harus dibuktikan oleh empat orang saksi. Tidak seorang pun saksi yang menyaksikan perbuatan lelaki itu. Untuk gadis itu, kehamilan saja sudah cukup sebagai saksi.

Pada negeri Islam lainnya lagi, ulama diadili dalam pengadilan yang khusus. Di negeri itu, tidak ada perlakuan yang sama di depan hukum. Pada negeri Islam lainnya, umat Islam yang mengikuti mazhab yang lain dipersekusi dan dieksekusi, dikejar-kejar dan dianiaya. Berbeda pendapat dengan penguasa dipandang sebagai kemurtadan, yang dapat menghalalkan darahnya. Lebih dari semuanya itu, syariat Islam tidak dengan sendirinya mendatangkan kesejahteraan. Saya saksikan penduduk negara-negara Islam itu juga mulai kecewa.

Dari perjalanan itu saya menyimpulkan beberapa hal. Pertama, syariat Islam tidak murni ilahiah. Apa yang kemudian disebut sebagai syariat Islam adalah hasil perumusan ulama yang berkuasa.

Kedua, syariat Islam berbeda-beda, tergantung pada mazhab yang dianut. Syariat Islam di Iran jauh berbeda dengan syariat Islam di Arab Saudi. Brunei melaksanakan syariat Islam menurut mazhab Syafi’i, Pakistan Hanafi, Arab Saudi Hambali (lebih tepatnya Wahabi), Taliban Afghanistan murni Wahabi, dan (sekiranya Front Islamique de Salut menang) Aljazair mungkin Maliki, sedangkan Iran Ja’fari. Bolehkah saya bertanya mazhab apakah yang akan diambil sebagai rujukan syariat Islam di Makssar?

Ketiga, erat kaitannya dengan mazhab, syariat Islam umumnya dipahami sebagai fikih Islam. Lalu, karena fikih kebanyakan membicarakan masalah-masalah ritual, penerapan Islam dimulai dengan pemaksaan pelaksanaan ibadat yang umumnya bersifat individual. Bupati Cianjur mengeluarkan perda tentang kewajiban pegawai perempuan pemerintah untuk mengenakan jilbab dan pegawai prianya untuk salat berjamaah di Masjid Agung. Kawan saya dari Cianjur terisak-isak di depan saya di Masjid Nabi saw di Madinah. Ia terharu menyaksikan toko-toko yang ditutup begitu azan terdengar. Kaum muslimin bersegera masuk ke masjid untuk salat berjamaah. “Ini negara Islam yang sebenarnya,” ujar kawan itu. “Mudah-mudahan Cianjur akan mengikutinya dengan segera.”

Ketika saya diundang untuk berdiskusi dengan badan yang mempersiapkan syariat Islam di Cianjur, saya bertanya, “Mengapa syariat Islam itu tidak dimulai dengan perlindungan bagi para TKW dan TKI, atau kewajiban pengusaha untuk memberikan tunjangan di atas upah minimum regional, atau pendidikan gratis bagi anak-anak fakir miskin, atau santunan hidup bagi orang-orang tua? Ketika Walikota Bandung mengundang saya– katanya sih ulama–untuk menerapkan syariat Islam di Bandung, saya mengusulkan agar Bandung memulai dengan syariat Islam yang hasilnya dirasakan langsung oleh rakyat kecil. Sebelum saya mengakhiri pembicaraan, saya harus memberikan apresiasi kepada Cianjur yang menyebut-nyebut akhlakul karimah sebagai bagian dari penegakan syariat Islam.

Tentu saja apa yang saya sampaikan di al Markaz tidak persis seperti yang saya tulis. Tetapi maksudnya kira-kira sama. Seperti para periwayat hadis, saya meriwayatkannya bil ma’na, dan tidak bil lafzh. Dalam bab ini saya ingin menyamakan dahulu pengertian kita tentang syariat dan fikih: Apakah keduanya sinonim ataukah masing-masing punya pengertian yang khas? Manakah yang lebih dahulu ada, syariat atau fikih? Apakah yang sekarang sedang hangat diperbincangkan itu syariat atau fikih? Bagaimana proses perumusan syariat atau fikih berlangsung? []

One Response to “Dari Syariat ke Fikih?”

  1. denzHanafi said

    terima kasih artikel nya… ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: