Rahmat Tuhan Tidak Terbatas

Banyak Jalan Menuju Tuhan

Cinta Pemungut Daun*

Posted by tuban on January 22, 2007

Sumber: Rindu Rasul, Jalaluddin Rakhmat.

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh.

Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia lalu mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang ada sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.

“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya ini tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah yang diceriterakan oleh seorang Kiai Madura, D. Zawawi Imran, ini bisa membuat bulu kuduk kita merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?

”Allahumma Shollii Alaa Sayyidina Muhammad wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad” []

* Judul diubah.

5 Responses to “Cinta Pemungut Daun*”

  1. Ike Mart said

    subhanallah, aku menangis membaca ini, ku sadari betapa sombong dan takaburbya diriku didepan Allah. ya Allah adakah ini huda untukku? Insya Allah kuniatkan dalam hatiku merobohkan kesombonganku, Masya Allah La quwwata illa Billah

  2. asep rais said

    saudaraku janganlah kerapnya ibadah kita kepada Allah menjadikan kita bangga atas prestasi ibadah kita, lalu mengecilkan atau menganggap remeh orang lain karena setelah itu yakinlah bahwa kita sudah riya, takabur dan sombong. Dan “Sombong adalah pakainku kata Allah” siapa yang memakainya berarti dia telah mebiarkan dirinya bersaing dengan Allah dan Allah pasti menang.

  3. harto said

    Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah aku, selama ini begitu bangga dengan amalku padahal masih kotor dan riya’ dan belum tentu Engkau terima hingga bisa menyelamatkan aku pada dasyatnya hari akherat, bodoh benar aku ini, merasa semua amal karena kekuatan dan usahaku sendiri, padahal sebenarnya aku ini tidak punya kekuatan apa-apa.Tuhanku ampunilah hamba yang hina ini yang tersadar dari hikmah amal mulia nenek yang berhati tulus. Astaughfirullahal adzim………, Allahumma Shollii Alaa Sayyidina Muhammad….

  4. Edi said

    Lahawla wala kuwata illa billahhil alil adzim.

  5. didin said

    yaa Allah, betapa bodohnya hamba. hamba mohon ampun atas segala dosa yang terasa ataupun tak terasa oleh hamba… hamba mohon lindungilah hamba dari segala penyakit hati..hamba mohon kepadaMu ya Rabb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: